Thursday 19 March 2015

Memaknai Film Eksperimental


Penulis: Arief Budiman

Jika mendengar kata eksperimen maka yang akan terbesit di pikiran kita adalah suatu percobaan, namun eksperimen bukan hanya istilah pada bidang kedokteran atau ilmiah saja, pada dunia film juga memiliki istilah eksperimen. Menurut sejarahnya, film eksperimental berawal dari kejadian di Eropa pada tahun 1920 (tahun ini dianggap sebagai era keemasan pertama sinema dunia selain pada periode hebat lainnya di dekade 1960-an sampai pertengahan tahun 1970-an yang dipandang sebagai periode ke dua), di tahun itu film dianggap sebagai perantara dan keinginan untuk melawan film yang digunakan sebagai media massa yang menghibur saja tetapi tidak mendidik, serta di tahun itu gerakan visual avant-grade (garda depan, perlawanan terhadap batas-batas apa yang diterima sebagai norma dalam suatu kebudayaan) berkembang dan film sudah mulai tercampur dengan unsur surealis dan dadais. Kemudian Fernand Leger, Dudly Murphy dan Man Ray membuat film eksperimental dengan judul Ballet Mecanique pada tahun 1924. Kemudian para seniman surealis dan dadaisme mulai tertarik pada medium film dan membawa ideologi mereka ke dalam karya mereka masing-masing. Seniman surealis terkemuka Salvador Dali dan Luis Bunuel mengangkat popularitas aliran sinema surealis melalui Un Chien Andolou, seniman dadais Marchel Duchamps juga ikut membuat karya dengan film sebagai medianya. Selain itu sinema ekspresionis di Jerman, impresionis di Perancis, serta gerakan montase Soviet juga ikut berkembang.
Sedikit penjelasan tentang avant-garde atau garda depan, salah satu wacana seni modern yang umumnya kerap digunakan terhadap terobosan-terobosan dalam seni rupa yang muncul menjadi sebuah agenda kritik dan perlawanan dari seniman terhadap sejarah peradaban (Barat) pasca perang dunia I dengan obsesi menciptukan sebuah dunia baru. Dalam sejarah perkembangannya istilah avant-garde muncul pertama kali pada abad ke-4 sebelum masehi dalam kosa kata militer, tentang fungsi dari bagian avant-garde dalam pasukan gajah yang berperan untuk mengantisipasi bahaya dari perlawanan dari sesuatu yang tidak diketahui dan mendesak yang akan berkorban secara heroik. Kemudian istilah yang kedua muncul pada abad ke-18 pada revolusi Perancis, yang berupa perkembangan dalam ide-ide dan prinsip-prinsip utama tentang kebebasan yang mengharuskan dilakukannya revolusi. Istilah yang ketiga muncul dalam kosa kata pemikir estetika tahun 1820 yang tergabung dalam lingkaran Saint Simonian, yang menegaskan bahwa seni harus menjadi garda depan dari masyarakat, di mana pada prinsipnya sangat jelas bahwa avant-garde selalu melawan di bidang seni dengan cara berperang menuju yang lebih baik.
Film eksperimental tidak memiliki plot namun tetap memiliki struktur. Strukturnya sangat dipengaruhi oleh insting subyektif sineas seperti gagasan, ide, emosi, serta pengalaman batin mereka. Film eksperimental juga umumnya tidak bercerita tentang apapun bahkan kadang menentang kausalitas, seperti yang dilakukan para sineas surealis dan dadais. Film-film eksperimental umumnya berbentuk abstrak dan tidak mudah dipahami. Hal ini disebabkan karena menggunakan simbol-simbol personal yang mereka ciptakan sendiri. Secara singkat film eksperimental dianggap sebagai ekspresi sangat pribadi dan personal dalam menggunakan medium film bersifat non-komersial, dan dalam mencari kekhususan film selalu berdialog dengan medium lainnya.
Film dibagi menjadi tiga jenis, yaitu dokumenter, fiksi, dan eksperimental. Film-film dengan aliran seperti surealis, impresionis, ekspresionis, dan lain-lain digolongkan ke dalam jenis film eksperimental. Karena seperti yang sudah dijelaskan di awal itu adalah satu bentuk percobaan, namun bukan coba-coba, melainkan seniman berusaha memasukkan hal baru ke dalam film demi membuat suatu karya film yang lebih menarik. Seperti yang dikatakan oleh salah satu sineas Yogyakarta, Senoaji Julius, “film eksperimental bisa dibilang adalah suatu bentuk usaha oleh seniman dengan mencoba memasukkan hal baru yang belum pernah dicobanya pada karya-karya sebelumnya demi menghasilkan suatu karya yang inovatif”.
Dalam pengertian sebelumnya bahwa film eksperimental lekat dengan istilah absurd atau bisa dibilang sureal. Karena film sureal termasuk ke dalam salah satu film eksperimental, tidak lantas para seniman yang membuat film itu, membuatnya secara begitu saja dan kita menganggapnya sebagai suatu ke-absurd-an. Justru para seniman membuatnya berdasarkan keresahan-keresahan yang dialaminya pada realita kehidupan sehari-hari yang dianggapnya menjadi absurd karena hal-hal tertentu, seperti yang dikatakan oleh M. Dwi Marianto dalam bukunya Surealisme Yogyakarta, “Di Indonesia yang didefinisikan sebagai helm benar-benar sureal. Hal ini dikarenakan tujuan undang-undang tersebut bukanlah mengurangi tingkat kematian dan kecelakaan, tetapi mengumpulkan denda dari para pelanggar. Hampir tidak seorangpun yang bisa membeli helm yang beneran, penguasa mengerti hal ini, sehingga terjadilah kesepakatan yang surreal. Pengendara sepeda motor diperintahkan untuk mematuhi undang-undang yang menuruh mereka untuk memakai pelindung kepala yang sama sekali tidak efektif, di antaranya adalah helm proyek, pot tanaman yang terbuat dari plastik, buah melon separuh, kantung plastik, dan kotak kardus. Tampaknya ini cukup membuat polisi puas”.
Satu keasikan tersendiri yang dimiliki oleh jenis film ini, terlebih dapat membuka pemikiran para sineas ataupun mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di bidang perfilman yang hanya berkutat pada sisi teknis atau akademis, bahwa terdapat satu genre di dalam film yang membebaskan film maker tersebut berkonsep dengan cara tutur penceritaannya sendiri di sebuah film, sekalipun hal tersebut tidak ada dalam realitas kehidupan. Film maker bisa bebas berekspresi dengan didasari oleh pemikiran dan konsep yang kuat. Dalam pembuatannya sebenarnya tidak ada teknik pasti karena film eksperimental mempunyai suatu ciri khas, yaitu tergantung bagaimana si pembuat mengekspresikan pikirannya ke dalam sebuah film. Banyak cara untuk mengungkapkan gagasannya, dapat melalui artistiknya, adegannya, pengambilan gambarnya atau bahkan pengambilan suaranya sekalipun. Namun yang patut digaris bawahi adalah, para pembuatnya biasanya memasukan simbol-simbol yang dibuatnya untuk menggambarkan pikiran mereka. Berikut adalah beberapa contoh film eksperimental:

- Genre Sub Genre












Sutradara                : Yosep Anggi Noen
Produser                 : Arya Sweta
Penulis                    : Yosep Anggi Noen
Durasi                     : 12 menit
Tahun Produksi      : 2014
Negara                    : Indonesia

Film ini merupakan projek dari Museum Nusa Tenggara Timur yang berisi gabungan film dan foto yang digabungkan menjadi satu. Film ini bersumber dari arsip-arsip yang dimiliki oleh museum, yang diolah dan menjadi sebuah ramalan terhadap Nusa Tenggara Timur di masa mendatang.
Terdapat suatu konsep yang menarik di dalam menggambarkan apa yang menjadi ramalan sang sutradara. Terdapat satu rel kereta di tengah lahan bermain anak-anak dan kemudian rel itu dilewati oleh kereta api. Seperti yang kita ketahui bahwa di Nusa Tenggara Timur tidak ada kereta api. Namun dalam menceritakan ramalannya, sang sutradara menggabungkan dalam satu frame gambar hal yang sebenarnya tidak mungkin berada di sana dengan hal yang memang benar-benar terjadi di sana, sebagai bentuk ramalannya tentang pembangunan yang akan terjadi di Nusa Tenggara Timur.
  
- Doodle Bug














Sutradara               : Christopher Nolan
Produser                 : Emma Thomas & Steve Street
Penulis                   : Christopher Nolan
Durasi                    : 3 menit
Tahun Produksi      : 1997
Negara                   : Inggris

Film ini merupakan sebuah karya eksperimental dari sutradara Christopher Nolan yang berdurasi sangat pendek yaitu tiga menit. Terlihat seorang pria pada satu ruangan yang membawa sepatu dan memukul-mukul sesuatu yang bergerak dan bersembunyi di bawahnya, ketika berhasil menangkapnya ia lalu melihat dan ternyata itu adalah dirinya yang lebih kecil. Dan ketika ia memukulnya menggunakan sepatu ternyata di belakangnya ada dirinya lagi yang lebih besar yang siap memukulnya.
Konsep yang dihadirkan oleh Nolan sungguh menarik, ia menghadirkan suatu bentuk manusia dan adegan yang berulang-ulang dengan perbedaan ukuran objeknya. Bisa diartikan bahwa kita bukanlah apa-apa masih ada yang lebih besar dari kita sehingga kita tidak boleh memperlakukan seseorang dengan seenaknya atau menganggap rendah seseorang. Atau bisa diartikan bahwa apa yang kita perbuat maka itu juga yang akan kita dapatkan.

- Rocket Rain













Sutradara               : Anggun Priambodo
Produser                 : Meiske “Dede” Taurisia
Penulis                   : Tumpal Christian Tampubolon
Durasi                    : 99 menit
Tahun Produksi      : 2014
Negara                   : Indonesia

Film ini bisa dibilang sebuah film surealis, karya eksperimental dari Anggun Priambodo yang jika dilihat dari perjalanan karirnya ia sering membuat karya video art. Film ini sangat personal, bahkan dua tokoh inti yang ada di dalam film ini dimainkan oleh dirinya sendiri bersama dengan Tumpal (scriptwriter) untuk memperkuat sebuah adegan yang natural dan penyampaianya kepada penonton, sekalipun ini bukan sebuah film realis. Di dalam filmnya ini, Anggun menghadirkan banyak sekali penyimbolan-penyimbolan yang dibuatnya melalui dialog-dialog antar tokoh maupun elemen-elemen visual yang ada di film ini. Film ini benar-benar menceritakan tentang apa yang dibicarakan laki-laki jika sedang mengobrol, banyak hal juga yang dimasukkan sebagai satire seperti kepercayaan tentang mitos dan kepercayaan kita tentang tayangan televisi seperti contohnya mitos lidah buaya dan acara yang menghadirkan 10 perceraian teraneh di dunia. Percakapan dan pikiran laki-laki pasti salah satunya tentang seks, cara pikiran seperti itu kemudian divisualkan oleh Anggun dalam film ini pada adegan ketika Tumpal melihat supirnya sedang makan berdua di meja makan bersama istrinya, seketika gambar berubah menjadi hubungan intim antar si supir dan istrinya di atas meja makan. Dengan begitu ekspresifnya, Anggun memvisualkan secara blak-blakan apa yang dipikirkan oleh seorang laki-laki di dalam satu frame gambar yang sama antara realitas dan khayalan. Banyak penyimbolan lain seperti bunga-bunga yang disebut sebagai vagina oleh mereka, lalu tikus mati yang ukurannya lebih besar dari mereka, sampai pada akting Anggun yang menjadi seekor kura-kura kemudian tiba-tiba bertelur di sebuah pinggiran pantai. Film ini termasuk baik dalam mengungkapkan sisi personal, kejujuran, serta ke-ekspresif-an sang sutradara dalam mengemas film ini dengan menggunakan penyimbolan-penyimbolannya.
Beberapa karya di atas merupakan contoh karya film eksperimental. Jika di dunia seni rupa ada fine art (seni murni), maka di film, ada eksperimental, jadi bisa dibilang eksperimental adalah bentuk fine art-nya film. Namun di dalam televisi, sekalipun itu adalah sebuah program film, tidak ada eksperimental, tidak ada fine art. Bukan karena tidak ada hal yang unik, bagus, atau indah, melainkan televisi adalah sebuah media massa dan memiliki sisi komersil yang tinggi. Sebagai media massa televisi secara otomatis akan ditonton oleh banyak orang karena sifatnya tersebut, dari berbagai macam orang, berbagai macam lapisan, dan yang terpenting adalah berbagai macam ideologi. Karena dalam sebuah karya eksperimental terkadang mengandung dan membicarakannya secara 'berlebih' SARA di dalamnya, dan peredaran film jenis ini biasanya melalui sebuah pameran atau pun festival-festival film. Di mana biasanya penotonnya sudah mengerti tentang apa ini, atau keterbukaan pikiran tentang sebuah karya seni, dan jika terdapat hal yang menimbulkan perbedaan pendapat, itu bisa dilakukan secara diskusi langsung. Sedangkan pada televisi, mereka tidak mungkin menampilkan karya yang membicarakan SARA dengan tingkat yang 'lebih', dan jika itu ditampilkan, kebanyakan masyarakat Indonesia tidak memiliki keterbukaan dalam memaknai sebuah karya seni. Apalagi kita tidak bisa mengontrol secara langsung siapa dan berapa umur yang menonton program tersebut, walaupun terdapat sebuah simbol yang menandakan bahwa itu adalah acara bukan untuk anak-anak. Bukan salah dari sebuah karya seni jika membicarakan unsur SARA dengan didasari konsep yang kuat, yang menjadi masalah adalah masyarakat Indonesia belum bisa membuka pikiran mereka dan lebih memenangkan otot dibandingkan sebuah diskusi. Sebuah karya tidak bisa menjadi karya jika di dalam televisi terlalu terikat oleh banyak peraturan yang mengekang kebebasan untuk berekspresi. Seperti yang dikatakan oleh Krisna Murti, “tidak ada fine art di dalam televisi, bukanlah seni media rekam melainkan seni media baru”. Selain itu pada dunia televisi lebih mementingkan komersil dibandingkan sebuah idealis dalam berkarya atau membuat satu program acara, karena itu adalah sebuah tuntutan industry, tuntutan perputaran uang. Di mana mereka dituntut untuk membuat acara yang akan disenangi oleh para penontonnya, dengan seperti itu mereka akan mendapatkan banyak uang yang datang dari sponsor dan iklan. Bukan malahan memberikan sesuatu yang penonton butuhkan dalam setiap program acaranya. Kebebasan berekspresi dan membuat sesuatu yang membuka pikiran masyarakat menjadi tidak bisa dilakukan karena kekangan dari komersil.
Jika pergerakan kamera yang swing pada sebuah acara panggung di televisi, atau penempatan 36 kamera di lapangan sepak bola pada pergelaran sepak bola piala dunia dianggap sebagai fine art-nya televisi, itu jelas-jelas salah. Dilihat ulang dalam pengertian dasar fine art dalam bahasa Indonesia adalah seni murni, seni yang memberikan kebebasan untuk berekspresi, mengesampingkan sisi fungsionalis. Dan yang dilakukan oleh kamerawan pada acara televisi adalah dalam rangka sisi fungsionalis. Mereka memberikan kamera swing untuk memberikan gambaran megah panggung dan mendukung performance yang sedang dilakukan di panggung itu. Sedangkan pada penempatan 36 kamera di lapangan pada sepak bola piala dunia tidak lain adalah untuk memberikan banyak sisi penglihatan pada pergerakan bola kepada para penonton layar kaca. Dalam arti lain adalah untuk memanjakan mata para penonton layar kaca gerak detail dari keseluruhan yang ada di lapangan tersebut karena mereka tidak bisa melihat langsung di lapangan. Mereka tidak bisa berekspresi dalam mengoperasikan kamera, mereka tidak bisa membuat framing gambar dengan keinginan mereka, semua yang tercipta hanya framing dasar dalam sebuah ilmu pengambilan gambar, tak bisa seenaknya mereka membuat gambar yang tiba-tiba berputar atau gambar yang miring terus menerus dalam acara televisi, karena yang ada mereka akan dimarahi oleh atasan, mereka selalu mengambil gambar dengan perintah-perintah dari atasan, yang intinya mereka melakukannya di bawah perintah dan untuk sisi fungsionalis, dua hal yang bukan termasuk ke dalam fine art, jadi tidak ada fine art di dalam televisi. Bahkan tidak hanya bidang industri pertelevisian saja, pada instuisi yang mengajarkan tentang televisi sekalipun yang mempunyai instuisi seni, tidak bisa membawa fine art ke dalamnya. Itu adalah sebuah kesalahan memasukan ilmu televisi ke dalam ranah instuisi seni, seharusnya mereka digolongkan ke dalam lembaga yang mempelajari broadcasting karena memang itulah televisi. Yang pada akhirnya ilmu-ilmu yang diajarkan tidak jauh berbeda dengan apa yang diajarkan oleh lembaga broadcasting, dan menjadi tidak berguna label seni tadi. Tidak ada eksperimental di dalam televisi, tidak ada fine art di dalam televisi. Yang lebih menyedihkannya adalah di beberapa perguruan tinggi seni tidak ada keterbukaan pikiran untuk mempelajari sesuatu yang baru dalam ranah ilmu pengetahuan di bidang audio visual di sebuah instuisi seni. Mereka tidak memberikan sebuah ilmu baru kepada mahasiswanya untuk membuka wawasan. Mereka tidak terbuka dalam mengapresisasi berbagai karya audio visual, contohnya adalah karya audio visual yang memiliki konten sensitif. Padahal itu bukanlah suatu masalah karena sejatinya kampus merupakan tempat untuk belajar dan diskusi, semua hal menjadi netral dan tidak ada yang sensitif, karena di kampus merupakan ranah ilmiah. Tempat yang seharusnya memberikan kebebasan untuk setiap ilmunya, justru bersifat memilih dan tidak terbuka dalam menerima ilmu baru, sungguh menjadi ironi tersendiri.
Film eksperimental merupakan sebuah bentuk ekspresi, bentuk protes, atau bentuk usaha untuk menjadi sebuah film yang menghadirkan kecerdasan, menghadirkan pembaruan selain dari fungsi film sebagai hiburan, begitulah paradigma minimal yang harusnya dimiliki oleh kita.


Daftar Pustaka 

-       M. Dwi Marianto, Surealisme Yogyakarta, Rumah Penerbit Merapi: 2001, Yogyakarta

Ulasan : Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala


Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala
Penulis : Arief Budiman

Bercerita tentang Norma (tokoh utama) yang hidup di lingkungan keluarga yang memiliki kepercayaan kuat tentang agama dan hidup dalam bayang-bayang aturan ibunya hingga dewasa. Jika anda menonton film ini maka anda akan teringat pula dengan dua film dari Orizon sebelumnya, yaitu Pingitan dan Sepertiga Malam yang sama-sama berlatar belakang agama Islam dengan kemasan warna film yang monochrome. Pemuda lulusan IKJ itu berargumen bahwa mengapa film Pingitan dan Sepertiga Malam menggunakan konsep monochrome seperti layaknya film pada zaman Lumiere bersaudara ketika membuat sebuah dokumenter pendek, adalah hasil coba-coba dan suka. Namun dalam filmnya kali ini ia beranggapan bahwa ia ingin menggabungkan suatu teknologi yang modern dengan sesuatu yang dianggapnya jadul, yaitu hitam putih dan ia dengan sengaja mengembalikan persepsi kepada penonton bagaimana mereka memaknainya saat film ini menggunakan warna monochrome (saat ditemui di pemutaran filmnya pada acara screening JAFF 2014 di Taman Budaya Yogyakarta). Terdapat satu hal yang saya tangkap dari penggunaan warna monochrome di tiga film terakhirnya selain dari alasan menggabungkan teknologi modern dengan yang jadul, yaitu tentang suatu paham yang memang sudah ada sejak dahulu dan sulit untuk dilepaskan. Bukan bermaksud untuk bersikap teologis, namun Islam adalah suatu kepercayaan yang memang sudah ada lama sejak jaman dahulu serta norma-norma yang diajarkan begitu melekat dan disiplin, seperti yang melatarbelakangi tiga film terakhir dari Orizon tersebut. Itu mungkin menjadi salah satu alasan mengapa warna monochrome digunakan di filmnya, walaupun ia sendiri tidak bilang itu adalah alasannya.
Sebelumnya saya sudah melihat film ini pada satu acara pemutaran film, namun film ini waktu itu berjudul Norma bukan Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala dan plot pada cerita Norma berbeda dengan plot yang ada pada film Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala. Terdapat satu pertanyaan besar tentang perubahan plot dan judul pada film itu, mengapa sang sutradara mengubahnya menjadi sedemikian rupa? Premis cerita yang disampaikan pada film Norma ataupun Gadis Berkerudung Hitam memang tidak berbeda, yaitu tentang seorang perempuan yang hidup di lingkungan keluarga yang memiliki keyakinan kuat dalam agamanya yang diberikan perhatian dan larangan-larangan ekstra ketat oleh orang tuanya yang kemudian bertemu oleh seorang laki-laki yang ditolongnya. Terdapat beberapa adegan yang dihilangkan ketika judul Norma berubah menjadi Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala, di awal ada adegan Norma (tokoh wanita) yang sholat kemudian terhenti karena sakit perut, kemudian ia pergi ke kamar mandi dan mengganti softex yang ia pakai. Adegan lain adalah ketika Norma mencoba merokok dari rokok kepunyaan laki-laki yang ditolongnya, kemudian ia mulai meraba sang pria, membuka jilbabnya dan mengajaknya untuk beranjak ke kamar, serta adegan mereka dipergoki oleh orang tua Norma. Dan ada beberapa adegan yang ditambah pada film Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala seperti adegan dia menyanyi bersama teman perempuannya yang membawakan radio dan dialog manusia serigala dan kuntilanak yang seperti biasanya dimasukkan oleh Orizon pada film Pingitan dan Lewat Sepertiga Malam. Namun perubahan tersebut malah menyebabkan perbedaan kesan yang didapatkan oleh penonton. Jika kita menonton Norma kita akan mendapatkan kesan bahwa ini adalah tentang seorang perempuan yang dikekang oleh orang tuanya sehingga menimbulkan rasa penasaran-penasaran yang ada di dalam dirinya menyebakan ia menjadi salah dalam menyikapi rasa penasarannya itu. Seperti membaca majalah tentang pria dewasa, mencoba untuk merokok, sampai terbawanya hawa nafsu di dalam dirinya mengenai seks. Berbeda dengan Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala, efek yang ditimbulkan lebih bagaimana pengalaman psikologinya di masa kecilnya di mana ia begitu dikekang oleh peraturan-peraturan dari orang tuanya yang sejak awal film sudah terlihat pada karakter sang ibu, hingga akhirnya ia mempunyai teman imajinasinya sendiri, sesosok kuntilanak. Tetapi terdapat kekeliruan pada film Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia serigala, adalah ketika tokoh Norma tidak mengerti mengenai satu dongeng yang sebenarnya itu adalah dongeng yang global dan banyak orang mengetahuinya. Secara cultural menceritakan dongeng kepada anak ketika masih kecil merupakan hal yang biasa dilakukan oleh orang tua. Tetapi mengapa tokoh Norma tidak mengetahuinya, apakah karena over protective-nya sang ibu sampai-sampai tidak menceritakan hal tersebut? Atau apakah background kepercayaan agama yang kuat menyebabkan ibunya tidak membenarkan tentang menceritakan dongeng? Sedikit koreksi terhadap sang sutradara karena terdapat adegan sebelum itu di mana tokoh Norma bernyanyi bersama teman wanitanya sebuah lagu masa kecil. Kalau ia fasih terhadap lagu anak-anak lantas mengapa tidak dengan dongeng?
Jika tidak dimasukkanya beberapa adegan dalam film Norma ke dalam film Gadis Berkerudung Hitam dan Manusia Serigala adalah karena alasan masih sensitifnya masyarakat Indonesia mengenai film yang menyinggung sebuah kepercayaan, menurut saya itu adalah sebuah kekeliruan. Sebagai film maker seharusnya Orizon harus mempertahankan sisi idealisnya. Karena bagaimanapun itu adalah sebuah karya seni, sebuah kebebasan ketika seseorang ingin membuat suatu karya, walaupun kita tahu tentang bagaimana sikap bebalnya masyarakat Indonesia dalam menyikapi sebuah karya seni. Malahan film tersebut bisa menjadi sindiran bagi mereka yang terlalu kolot dalam hal kepercayaan yang dicampuradukkan dalam membesarkan anaknya. Film seperti Norma seharusnya dipertahankan sebagai salah satu usaha membuka mata para audience tentang addict-nya terhadap kepercayaannya dan sikap terlalu percaya terhadap kepercayaannya tanpa mencari asal-usul yang pasti atau memikirkan hal-hal logis lainnya.

Namun kembali lagi, itu semua adalah hak dari si pembuat karya, akan seperti apa film ini bercerita, akan seperti apa film ini dikemas, akan seperti apa nanti alur film ini, dan sebagainya. Karena setiap film maker memiliki cara pandang yang berbeda tentang suatu film.

Sadar


Bejana menua                                                                       Swara samar sabak  
   Buah kempuh berselimut daun                                               Kepala tak lagi ganjil 
   
Mani tak lagi air                                                                    Hutan pubis            
Hasrat tak lagi cinta                                                              Pulau di ketiak        
   

Arief Budiman; 2015