Monday, 7 December 2015

Resensi Filem Lelaki Harapan Dunia


KOMEDI HITAM DARI NEGERI MELAYU
Penulis : Arief Budiman

Pak Awang (Wan Hanafi Su) yang dulunya adalah seorang penyanyi, berusaha untuk memindahkan sebuah rumah tua di dalam hutan atau biasa disebut warga desa rumah Amerika, yang telah lama diyakini berhantu oleh warga desa sebagai hadiah pernikahan putrinya. Di lain tempat seorang imigran berkulit hitam Solomon (Khalid Mboyelwa Hussein) yang berjualan secara ilegal, kabur dari tangkapan aparat dan menuju ke dalam hutan yang kemudian menemukan rumah tua tadi dan menggunakannya sebagai persembunyian. Namun beberapa warga desa meyakini bahwa Solomon adalah penunggu yang ada di dalam rumah tersebut, yang pada akhirnya membuat semua warga desa percaya dan ketakutan. Semua kejadian-kejadian tentang kehilangan, penyakit dan kesialan lainnya disambung-sambungkan dengan rumah tua tersebut, mereka merasa bahwa penyebabnya adalah karena memindahkan rumah tua itu. Keresahan warga desa membuat rumah tua yang diinginkan Pak Awang sebagai hadiah pernikahan putrinya batal dipindahkan, serta membuat Pak Awang menjadi dikucilkan serta dimusuhi oleh warga desa tersebut.
LELAKI HARAPAN DUNIA, filem dengan genre komedi arahan sutradara Liew Seng Tat yang berdurasi kurang lebih satu setengah jam ini merupakan sebuah filem yang berlatar belakang cerita sebuah desa di Malaysia. Filem ini terlihat sangat menonjolkan kultur yang ada di Malaysia, serta memperlihatkan sebuah perilaku yang kecenderunganya dimiliki oleh negara-negara timur terutama Asia yaitu mengenai perilaku berkolektif dan bergotong-royong. Tak hanya drama, komedi juga menjadi pelengkap di filem ini. Tetapi yang tertangkap di filem ini adalah bukan sekedar komedi melainkan sebuah black comedy (komedi hitam).
Black comedy sendiri merupakan salah satu jenis komedi yang biasanya mengenai sisi gelap atau mengenai kehidupan sehari-hari, selain itu hal-hal yang biasanya ditertawakan adalah sesuatu yang sebenarnya tragis. Biasanya mencakup kejadian politik, rasisme, agama, terorisme, dan peperangan. Black comedy bisa dibilang adalah salah satu cara lain untuk menertawakan sesuatu. Black comedy juga mengajarkan kita untuk berani menertawakan sesuatu yang menyedihkan dalam kehidupan dan yang terjadi akhir-akhir ini.
Liew Seng Tat memang cukup dikenal sebagai pembuat filem yang bernuansa black comedy. Tidak hanya sekedar membahas tentang kepercayaan dan mitos, namun Liew Seng Tat juga memasukkan politik ke dalamnya. Bermula pada adegan kedatangan pejabat dari sebuah parpol yang disambut oleh para warga desa dengan menyiapkan musik pengiring dan tulisan penyambut. Tulisan tersebut dibuat besar dan setiap huruf dipegang oleh beberapa warga desa, tetapi ketika mereka berada pada posisi masing-masing tulisan yang seharusnya “SELAMAT DATANG” menjadi “ELAMAT BANGSAT” dan “SELAMAT BATANG”. Adegan tersebut terlihat sebagai sebuah sindiran kepada parpol-parpol yang biasanya melakukan kampanye atau melakukan acara tertentu di sebuah desa dengan tujuan menarik masa serta perhatian demi kepentingan mereka dengan memberikan sejumlah uang yang biasa disebut donasi atau sumbangan. Kemudian terdapat seorang pemuka agama yang mengidap tuna netra, yang menggunakan kacamata hitam bemerek RayBan dan beradegan mengumandangkan adzan, adegan tersebut terlihat sebagai sebuah sindiran karena tidak sedikit saat ini pemuka-pemuka agama yang tetap ingin tampil mencolok serta sangat memperhatikan fashion mereka. Para warga desa yang sangat kental dan kuat kepercayaannya pun dapat dengan mudahnya dipengaruhi serta melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan percaya terhadap takhayul bahkan dukun. Namun di filem ini juga melawan balik tentang kebiasaan yang ada dan menjelaskan bahwa supranatural itu tidak bisa sepenuhnya dipercaya. Banyak hal-hal konyol yang dilakukan dengan berpikiran pendek oleh warga desa yang sebenarnya mereka memiliki kepercayaan agama yang sangat kuat. Filem ini juga membahas isu ras yang ada di negaranya sendiri, terlihat dengan penamaan Cina terhadap salah satu karakter yang ada di dalam filem ini. Tidak hanya itu terdapat juga beberapa sindiran kecil mengenai Indonesia melalui perbedaan nilai tukar rupiah dengan ringgit. Selain itu juga terdapat sindiran mengenai negara Cina yang saat ini menjadi salah produsen yang cukup merajai pasar dunia dengan mengatakan “kualistas singkong” pada barang hasil produksi Cina.
Jika diceritakan kembali dengan melihat komedi-komedi yang sebenarnya merupakan sebuah sindiran di filem ini adalah tentang politik yang meracuni warga yang akhirnya membuat perpecahan dan menimbulkan kesalah-pahaman diantara mereka. Rumah di filem ini yang disebut-sebut sebagai rumah Amerika oleh warga desa karena besar dan bercat putih menyamakannya dengan White House di Amerika, mereka anggap sebagai penyebab masalah yang terjadi kepada mereka, atau dalam artian lain White House itulah penyebab utama masalah dalam filem ini. Semua warga desa yang awalnya tidak memiliki masalah, mereka menjadi berselisih tentang hal yang rasional dan tidak rasional, mistik, kepercayaan, prinsip hingga akhirnya berujung kepada kekerasan. Karakter Pak Awang pun yang awalnya sabar menjadi berubah karena putus asa, dari berpikir rasional menjadi berpikir tidak rasional dan membalas apa yang diperbuat oleh warga desa kepadanya, yang terjadi adalah Pak Awang terkena batunya sendiri karena perbuatannya. Semua yang terjadi adalah saling berbuat hal-hal yang tidak rasional karena ketakutan dan keputusasaan. Hal anarkis juga terjadi dengan iming-iming kepercayaan.
Keseluruhan filem ini tidak hanya menceritakan tentang isu hantu yang ada di rumah Amerika tersebut, tetapi memiliki kekayaan cerita lain di dalamnya, tidak hanya satu layer tetapi cerita ini memiliki layer-layer lain di dalamnya. Bisa dibilang bahwa LELAKI HARAPAN DUNIA merupakan salah satu filem black comedy yang baik yang dimiliki oleh Malaysia saat ini. Dengan judul LELAKI HARAPAN DUNIA setidaknya dapat menjadi cermin kita di mana laki-laki yang kental dengan kekuatan, maskulinitas, dan yang biasanya menjadi pemimpin, agaknya harus bisa mawas dan berpikir rasional dalam menanggapi suatu hal atau isu, terlebih jika isu tersebut menyangkut adat dan kepercayaan yang mungkin saja memang dibuat hanya untuk kepentingan politik kalangan tertentu. 

Tuesday, 29 September 2015

Projek Fiksi Pendek 2



----------------------------------------------------------------------------------------------------
Projek Fiksi Pendek 2 kali ini berupaya menjadi ruang pembebasan alam pikir.
Bagaimana kita dapat mengutarakan segala hal tanpa adanya rasa takut.
Dan bagaimana kita dapat keluar dari labirin-labirin yang mengekang pikiran.
Setiap individu muda musti bebas merdeka.
Percaya diri mengeluarkan gaya khasnya dan berani bersuara ditengah ancaman keseragaman.
Itulah kita, gelora jiwa muda yang penuh keisengan, bergejolak, gelisah, liar dan nakal.

Marilah kita berpesta merayakan kebebasan!

Foto-foto dokumentasi: Projek Zine Spesial Sepuluh Tahun Rock Siang Bolong










Zine diperbanyak sebanyak 100 buah ini bisa didapatkan dengan harga Rp 15.000,00. Silakan hubungi 085729833105 (Agge Akbar) untuk memilikinya.

Tuesday, 23 June 2015

Projek Mulia : Pemutaran Donasi



Berkaca Kata + Kamisinema mempersembahkan: Pemutaran Donasi Projek Mulia.

Pemutaran:
Film-film yang diputar disutradarai oleh Loeloe Hendra Kumara dan diproduksi ketika ia masih bersekolah di kampus ISI sampai dengan saat ini.

Diskusi:
Kita akan saling bertukar pandangan tentang skena film pendek di tingkat lokal maupun internasional. Bagaimana cara bersikap dan menghadapi dunia saat ini dalam kaitannya dengan film pendek dan secara khusus, kita akan sama-sama mengetahui dari empat film yang diputar, bagaimana cara kerja atau proses berkarya dari seorang Loeloe Hendra. Sepak terjang, pengalaman, dan pengamalan apa saja yang telah dilakukannya hingga mengantarnya sampai ke tahap seperti sekarang ini.


Donasi: 
Sifat donasi adalah sukarela. Panitia akan menempatkan kotak donasi untuk memuat donasi kawan-kawan. Sampai ketemu :)


Cek juga akun instagram kami di @berkacakata

Saturday, 13 June 2015

Ulasan

Melihat Fakta dan Fiksi
dari Musim Hujan dan Orang-Orang dari Selatan
Oleh: Cak Udin


Foto oleh: Fariduddin Ghani
                     
Saat asyik bermain musik bersama Diak sambil mendendangkan lagu karyanya berjudul “Dendang dari Selatan” tiba-tiba seorang kawan datang membawa sebuah buku. Saya berdua pun diam sejenak. Belum lagi ucapan terima kasih kuucapkan, kawan tersebut tergesa-gesa beranjak dari altar perjamuan kami berdua sambil berteriak “Woi Resensien yo”.

Projek pertama kawan-kawan komunitas Berkaca Kata yang menyajikan karya sastra bertajuk “Musim Hujan dan Orang-Orang dari Selatan” membuat hati ini sumringah sembari berceleloteh “Akhirnya, terbit juga...” Saya baca dari setiap karya cerpen yang hadir di taman kata ini serasa mendapatkan pengalaman yang berbeda. Alias pengalaman baru. Ada nuansa liris, deskriptif, realis, melankolis, sarkastis, romantis, narsis, dsb, lahir dari lingkup mahasiswa Seni Media Rekam seturut daya imajinya masing-masing. Rangkaian kata berjajar berbaris setebal seratus delapan puluh lima halaman menjadi teman duduk bersama secangkir kopi dan udut. Saya mendapatkan kesatuan imaji dan kreatifitas yang utuh dalam setiap cerpen pada buku ini. Meski di beberapa cerpen, latar, tema, intrik dan konflik masih menjadi satu koreksi yang harus ditumbuhkembangkan lagi. Tapi, bagi saya buku kumpulan cerpen yang mencoba mempertemukan antara fakta dan fiksi telah memberikan angin segar pada kelestarian sastra kampus. 

Dalam keseharian fakta dan fiksi nampak seolah dunia yang sudah selesai. Setiap orang bisa dengan mudah menunjuk ini “fiksi”, terhadap kenyataan turunnya hujan. Sama mudahnya dengan setiap orang yang sama menunjuk “itu fakta”, saat ia berkata bahwa hujan turun itu sebenarnya tak pernah ada. 

Tetapi dalam karya sastra hal yang demikian tidaklah ada. Karya sastra seolah gampang dibedakan antara karya realis dan non-realis. Realisme seakan-akan padanan dunia kemyataan sehari-hari yang diangkut dan ditarik ke ranah fiksi-dunia khayalan. Namun, walaupun khayalan, fantasi dalam karya realis adalah karya yang menjajari kenyataan. Setiap dari kita akan berteriak lantang seandainya karya realis itu menjauh dari dunia yang kita akrabi. Karya realis tak bisa bertindak sesuka hatinya. Ia terikat  dan bermain dalam bingkai hukum dunia.

Sebaliknya dalam karya non realis. Dalam konteks ini realisme seolah tak berlaku. Atau ditaklukan. Ia seakan murni fantasi. Hukum yang mengikat “diri”nya adalah sejauh imajinasi dan fantasi itu sendiri. Oleh karenanya karya non-realis, kita (penulis) seolah-olah bisa berbuat apa saja. Tanpa harus mematuhi hukum kenyataan, tanpa mengenai dirinya, dan dapat mengabaikannya.

Benarkah demikian? Benarkah karya realis tak mampu menembus hukum kenyataan. Kita kembali pada batasan fakta dan fiksi yang seolah-olah gamblang membatasi dan begitu jelas itu. Batas fakta dan fiksi nyaris tak ada. Fakta bisa menjadi fiksi dan fiksi bisa menjadi fakta. Karena realis ataupun non realis sebuah karya sastra ia akan tetap menjadi sebuah dunia khayalan, dunia fantasi penuh imaji yang tentu saja dapat menerobos dan memasuki ruang-ruang  paling tabu sekalipun dalam dunia nyata hingga pada melanggar hukum-hukum batasannya sendiri. Saya mengandaikan antara Fakta dan Fiksi seperti Ruh dan Tubuhnya atau dalam karya sastra pengarang dan karyanya. Seperti Ruh dan tubuhnya: tubuh tidak bisa mengikut ruh untuk mengepakan sayap seperti burung menjelajah alam. Atau seperti otak dan jiwa pengarang yang menabuh dalam karyannya. Dan ini adalah jamaknya. Dimana abtraksi memerlukan konkretisasi. Butuh bentuk. Tanpa bentuk, ruh seolah menjadi torso jiwa. Dalam bahasa komunitas Berkaca Kata  “Tujuan utama diciptakannya projek ini antara lain, pertama menciptakan ruang bagi mahasiswa untuk meluapkan segala emosi dan imajinasi yang bersarang di kepalanya. Sebab di masa kini dapat kita tahu, ide-ide selalu berakhir tragis di dalam otak dan selalu selesai hanya di tataran wacana” (berkaca kata: 2015)

Berpusat pada manusia. Kenyataan itu seolah mewujud “kenyataan dengan”, atau “kenyataan dalam hubungan”. Hujan memang ada. Tetapi kenyataan adanya hujan selalu dalam hubungan “kenyataan dengan” kesadaran manusia. Tanpa manusia menyadari dan memaknai, hujan itu tak akan pernah ada. Ia (hujan) akan bergerak menjadi fiksi dalam benak manusia.
Sebaliknya kenyataan hujan dalam benak manusia itu, bukan hujan seperti apa yang tampak lagi. Hujan bergerak seturut aspirasi atau perspektif manusia itu sendiri. Karena itu hujan yang nampak seolah kenyataan objektif itu sudah bergeser menjadi hujan fiksi. Manusia sebagai pusat kesadaran bisa menambahinya atau menguranginya.

Berjalan bolak-balik antara fakta dan fiksi, antara realis dan non realis, begitulah agaknya kumpulan lima belas cerita pendek bertajuk “Musim Hujan dan Orang-Orang dari Selatan” terbitan komunitas Berkaca Kata FSMR ISI Yogyakarta mencoba bermain-main pada ranah “Elevator Rides” yang melibatkan lima belas penulis ini. Kumpulan cerpen ini bagai “Senja di Taman Kota” yang “Tepikan Keluh” dikala anak cucu “Adam dan Hawa” duduk di “Bangku Taman” menghayati lalu lalang nasib ber”Suara Hitam Putih”” pada “Lelaki yang Mencintai Spermanya” di antara “Perempuan Satu dan Perempuan Lainnya” hingga urat saraf “Macet” dan berlabuh pada “Randu Merah di Muka Ibu” bagi saya buku berhalaman 158 ini menjejak pengalaman estetis dari setiap penulisnya mewujud pada pelimbahan gerbong-gerbong tua sepekat daya “Kereta Api 18 Januari” sebagai ungkapan “Terima Kasih MR. Hammersschmidt” yang membawa ribuan makna “Cerita Isi Gudang” bagi laku yang “Untiteld”.

Semakin terkikisnya pecinta sastra dikalangan mahasiswa dengan hadirnya kumpulan cerpen “Musim Hujan dan Orang-Orang dari Selatan” sedikit banyak memberikan harapan, bahwa sesungguhnya kedekatan mahasiswa dengan sastra (buku) masihlah terjaga. Tak akan lahir sebuah goresan tanpa membaca. Dengan membaca kegelisahan akan muncul. Dari kegelisahan goresan akan lahir. “Aku menulis maka aku ada”. (Zainal Arifin Toha)


SastraSewu 2015, Yogyakarta
Kopi Hitam Udat-Udut. Dikancani diskusi kecil Farid dan Diak



Tuesday, 26 May 2015

Tulisan Edisi Dies Natalis (2)

TULISAN: TULISAN TENTANG DIES: TULISAN TENTAS DIES NATALIS

              Halo, assalamualaikum, akhirnya kita berjumpa lagi pada perayaan Dies Natalis ISI Yogyakarta. Perayaan yang (seperti biasanya) selalu kita jadikan bahan perbincangan disela waktu santai atau sekedar nongkrong di bangunan yang tidak terpakai di kampus. Perayaan ulang tahun yang biasa-biasa saja sebenarnya. Tetapi selalu ada saja hal-hal yang mengusik akal sehat dan naluri kita .untuk mempertanyakan sesuatu. Dies Natalis buat siapa sih? Pertanyaan membosankan yang setiap tahun pasti terujar. Lebih bodoh lagi kita, kenapa harus buang-buang tenaga-pikiran mengurusi hal-hal yang belum tentu diurusi oleh para pengelola lembaga? Hmm, tetapi apapun niat baik itu pasti selalu ada hikmahnya, yaitu, kita jadi tahu kadar kemalasan para pengelola ISI ini begitu parah dan gawat!

              Setiap fakultas dan jurusan pasti memiliki persoalan tersendiri mengenai penyelenggaraan Dies ini. FSMR adalah salah satunya. Mulai dari publikasi acara yang tiba-tiba, rangkaian acara yang tidak inovatif dan tidak adanya kerjasama urun, rembug, guyub, intim antara mahasiswa dan birokrat kampus. Terlihat sekali bahwa semua acara dilaksanakan hanya untuk memenuhi syarat asal ada. Asal terselenggara habis itu lenyap ditelan angin. Bahwa yang digaungkan institusi berbasis seni itu hanyalah omong kosong belaka.

              DEAR  REKTORKU DAN DEKANKU YANG TERCINTA,

BERIKANLAH DIRIKU INI PENCERAHAN DAN SOSIALISASIKAN KEPADA SEMUA MAHASISWA APA ITU MAKNA DIES DAN SENI BERBASIS RISET DAN TEKNOLOGI ITU! BERIKANLAH JUGA DIRIKU INI NASIHAT-NASIHAT TENTANG ART DAN CERITAKANLAH DONGENG-DONGENG SENIMAN ELOK NAN AGUNG NAN ADILUHUNG ITU AGAR SUPAYA KAMI TERHINDAR DARI KEJAHILAN IBLIS BERKEDOK MANUSIA YANG GEMAH RIPAH LOH JINAWI TOTO TITI KERTARAHARJA. SALAM!

              Ketiadaan sosialisasi, selalu mepet waktu, asal jadi. Tiga faktor kenapa Dies Natalis benar-benar sangat memuakkan, (saya tidak tahu diksi selain itu yang paling tepat untuk menggambarkan situasi ini). Adalah wajar ketika para mahasiswa selalu saja membuat ruang nyamannya di luar kampus. Kampus bagaikan tempat persinggahan sesaat. Tidak ada iklim berdiskusi, berorganisasi, dan jauh sekali dari pusat pengembangan pengetahuan. Bahkan dengan basis seninya, dan di aspek kekaryaan, ISI sudah berjarak jauh dari sifat eksperimental. Sifat liar dan semangat menggebu-nggebu masa muda mahasiswa dibiarkan mati perlahan di sini. Tidak adanya faktor-faktor tersebut membuahkan ironi tersendiri ketika dihubungkan dengan citra kampus yang menjadi pusat inkubator kesenian di Indonesia.

              Tidak elok jika kami yang disalahkan atas semua kekacaubalauan ini. Atas dasar nama baik ISI, alangkah anggun apabila para pengelola kampus bercermin diri dan mulai mempertanggungjawabkan perilakunya selama ini –yang arogan, instan, waton mlaku dan bodoh.

              Saya akan menyodorkan secuil fakta (aduh ini sangat ironis). Dalam penyelenggaraan kali ini, jurusan televisi menyelenggarakan acara penayangan karya. Karya-karya yang dinyatakan lolos, terlebih dahulu masuk ke dalam proses kurasi (saya bingung apakah ini bisa disebut kurasi atau tidak). Proses kurasi itu hanya dikerjakan oleh satu orang dosen dan bersifat tertutup. Metode dan cara penyaringannya pun tidak jelas. Apabila kita berbicara tentang kurasi, maka banyak unsur yang perlu diperhatikan secara detail dan seksama. Mulai dari konsep acara, tulisan pengantar tema, tulisan pernyataan tentang film-film yang lolos maupun yang tidak lolos, hingga teknis display. Adanya aspek-aspek ini, salah satunya berfungsi sebagai jembatan antara para pembuat film dan penonton. Di sini, jika masih konsisten kita sebut kurasi, kurator tidak hanya berperan sebagai penyeleksi saja, tetapi fungsinya yang jauh lebih utama adalah bagaimana dia dapat menjelaskan dan menawarkan cara pandang kepada penonton untuk mengapresiasi film-film itu sebagaimana mestinya serta sesuai dengan segmentasi penonton atau aspek-aspek lainnya yang memudahkan penonton untuk membaca film-film yang akan dipertontonkan.

              Bubur sudah menjadi bau busuk, sepertinya Ibunda Kurator memang tidak memahami apa itu kurasi. Atau dia hanya mencomot istilah itu tanpa tahu maknanya? Alih-alih agar terlihat pintar dan keren, Ibunda Kurator terlihat malah sebaliknya. Ibunda tidak menguasai betul terminologi kata. Bahkan yang paling fatal, dia yang merangkap dosen ini telah berperilaku  jauh dari akademis (kata yang selama ini digaung-gaungkan oleh para akademika kampus). Di sini kita dapat mengetahui dengan jelas, bahwa tingkat pemahaman dosen itu cethek.

              Tidak adanya penjelasan atau ulasan-ulasan lebih lanjut ini mengakibatkan kekecewaan di kalangan mahasiswa. Para mahasiswa tidak pernah tahu alasannya kenapa film-film mereka bisa lolos atau tidak. Pengajar lainnya pun seakan tidak mau tahu, bahkan bungkam? Mereka menganggapnya sebagai hal sepele, yang tidak perlu dibahas lebih lanjut. (apa karena malas yang akut?) Sudah menjadi pemandangan yang  lazim bahwa di jurusan televisi banyak hal-hal yang tidak diputuskan secara demokratis dan terbuka. Padahal hal semacam itu diperlukan untuk proses dialektika demi kemajuan pengetahuan dan cara berpikir. Kalau sudah begini apa boleh buat? Evaluasi sangat dibutuhkan mengingat kondisi yang sebegitu parah ini. Tapi kalau jadinya begini lagi, ya percuma. Kita nantikan bersama saja, bagaimana Dies tahun depan.



              Akhir tulisan, sebagaimana kita merayakan ulang tahun pribadi maupun teman-teman, atmosfer yang terbangun dan tercipta sungguh menyenangkan dan menimbulkan gegap-gempita yang sulit dilupakan. Setiap perayaan ulang tahun menciptakan sebuah nuansa gaib nan mistis dan itu menyiratkan sebuah doa maupun pengharapan tentang cita-cita dan upaya untuk melanggengkan usia pertemanan. Kesyahduan yang amat sangat ketika mengingat nyanyian lirih dan pendar lilin-lilin di tengah malam. Keintiman yang luar biasa hangat ketika mengingat malam yang memunculkan kisah-kisah tentang suka-duka jalinan persahabatan. Gelak tawa juga air mata pun menandai waktu yang sampai hari ini menjadi ingatan kolektif tentang esensi sebuah perayaan. Begitulah cara manusia, disadari atau tidak, mencoba memaknai hidup dan menggerakkan –sekaligus melanggengkan tradisi yang dipunyai. Perayaan ulang tahun adalah tanda sekaligus bentuk refleksi diri atas limpahan energi semesta yang telah diberikan oleh dzat yang maha kekal. Sebuah sikap rasa syukur. Tidak hanya sekedar pengulangan-pengulangan yang sama setiap tahunnya. Dan yang terakhir, apakah kita sanggup menyesuaikan sikap dan sifat kita atas dasar pemikiran tentang dunia yang terus bergerak ini? Mari kita merenung. (bk)

Tulisan Edisi Dies Natalis (1)

ULANG(AN) TAHUN

                Akhirnya kampus saya bisa menginjak angka 31 Tahun!! Alhamdulillah.. Saya ikut bahagia, karena biasanya saya selalu meluangkan waktu untuk menonton beberapa rangkaian acara yang biasanya ditampilkan secara “wah”. Tapi tahun ini, saya sama sekali tidak merasakan atmosfer “wah” itu. Jangankan untuk merasakan atmosfernya, tema tahun ini saja saya tidak tahu, atau memang tidak ada sosialisasi? Ah entahlah. Setelah saya mencari tahu (tanya sana sini - searching) apa arti dari tema Ulang Tahun kali ini, saya menemukan bahwa tema ini diambil konon karena sejalan dengan berubahnya misi ISI Yogyakarta setelah berganti “wadah” dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ke Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Dengan berubahnya “wadah”, para petinggi pun harus menyesuaikan program serta cara pandangnyadalam menghasilkan “output” berupa akademisi yang siap terjun dalam dunia kerja dan industri (nah loh!).

Menilik kegiatan fakultas lain, saya percaya setiap fakultas pasti punya masalahnya sendiri-sendiri, begitu juga dengan fakultas “seni” media rekam yang letaknya jauh di sudut sana. Kalau membahas dari sudut fakultas ini, mungkin akan sedikit lucu, atau bisa jadi memang lucu. Seperti biasa, sama dengan tahun sebelumnya, acara “Ulang Tahun” ini selalu menjadi momok yang “besar”, rencana “wah nan istimewa” namun tak ter-realisasikan sepenuhnya dengan baik karena minimnya waktu untuk persiapan, terlalu terburu-buru. Ah..Skip.

Dalam rangka menyukseskan hari ulang besar sebuah instansi tentu saja sangat dibutuhkan adanya kerja tim, bukan malah menjatuhkan. Apalagi idealis diagungkan untuk menyampaikan sebuah gagasan seseorang melalui sebuah konsep poster yang mana itu untuk kepentingan bersama, kepentingan publikasi, kepentingan informasi dan tentunya untuk merayakan hari ulang tahun instansi. Bukannya kalau ulang tahun itu selalu berharap untuk lebih baik ya? Instropeksi diri? Bukan malah curhat menampilkan yang buruk! Atau itu namanya sifat realistis? Belum lagi, konsep kuratorial “tertutup” seorang dosen yang menyeleksi beberapa karya audio visual untuk ditayangkan di depan masyarakat umum mewarnai ulang tahun kali ini. Sampai disini lucu, nggak?

Dari tahun ke tahun nampaknya ada saja hal hal seperti ini yang selalu menjadi misteri, sulit dipecahkan, selalu memuakkan. Sejauh ini saya menyimpulkan bahwa momen ulang tahun di instansi seni ini merupakan momen Ulang(an) atau Ujian (dibaca:cobaan) yang selalu sulit dilewatkan setiap tahunnya. Dan pada akhirnya hanya akan menjadi perayaan semu belaka, intinya “merayakan”.

Pak, Bu...

Apakah esensi dari perayaan ulang tahun kampus ini?
Apakah hanya sebatas ceremony menyambut hari baru?
Atau mungkin saja hanya sebagai ajang pesta? Enaaa’
-

Kampus saya lucu. Fakultas Seni Media Rekam, lucu ga namanya? Ga lucu ya? Lucu tau orang orangnya!Saya juga lucu. Saya lucu karena sayasudah bercerita tentang orang-orang lucu. Lucu ga? GAK!! (df)

Friday, 1 May 2015

Thursday, 19 March 2015

Memaknai Film Eksperimental


Penulis: Arief Budiman

Jika mendengar kata eksperimen maka yang akan terbesit di pikiran kita adalah suatu percobaan, namun eksperimen bukan hanya istilah pada bidang kedokteran atau ilmiah saja, pada dunia film juga memiliki istilah eksperimen. Menurut sejarahnya, film eksperimental berawal dari kejadian di Eropa pada tahun 1920 (tahun ini dianggap sebagai era keemasan pertama sinema dunia selain pada periode hebat lainnya di dekade 1960-an sampai pertengahan tahun 1970-an yang dipandang sebagai periode ke dua), di tahun itu film dianggap sebagai perantara dan keinginan untuk melawan film yang digunakan sebagai media massa yang menghibur saja tetapi tidak mendidik, serta di tahun itu gerakan visual avant-grade (garda depan, perlawanan terhadap batas-batas apa yang diterima sebagai norma dalam suatu kebudayaan) berkembang dan film sudah mulai tercampur dengan unsur surealis dan dadais. Kemudian Fernand Leger, Dudly Murphy dan Man Ray membuat film eksperimental dengan judul Ballet Mecanique pada tahun 1924. Kemudian para seniman surealis dan dadaisme mulai tertarik pada medium film dan membawa ideologi mereka ke dalam karya mereka masing-masing. Seniman surealis terkemuka Salvador Dali dan Luis Bunuel mengangkat popularitas aliran sinema surealis melalui Un Chien Andolou, seniman dadais Marchel Duchamps juga ikut membuat karya dengan film sebagai medianya. Selain itu sinema ekspresionis di Jerman, impresionis di Perancis, serta gerakan montase Soviet juga ikut berkembang.
Sedikit penjelasan tentang avant-garde atau garda depan, salah satu wacana seni modern yang umumnya kerap digunakan terhadap terobosan-terobosan dalam seni rupa yang muncul menjadi sebuah agenda kritik dan perlawanan dari seniman terhadap sejarah peradaban (Barat) pasca perang dunia I dengan obsesi menciptukan sebuah dunia baru. Dalam sejarah perkembangannya istilah avant-garde muncul pertama kali pada abad ke-4 sebelum masehi dalam kosa kata militer, tentang fungsi dari bagian avant-garde dalam pasukan gajah yang berperan untuk mengantisipasi bahaya dari perlawanan dari sesuatu yang tidak diketahui dan mendesak yang akan berkorban secara heroik. Kemudian istilah yang kedua muncul pada abad ke-18 pada revolusi Perancis, yang berupa perkembangan dalam ide-ide dan prinsip-prinsip utama tentang kebebasan yang mengharuskan dilakukannya revolusi. Istilah yang ketiga muncul dalam kosa kata pemikir estetika tahun 1820 yang tergabung dalam lingkaran Saint Simonian, yang menegaskan bahwa seni harus menjadi garda depan dari masyarakat, di mana pada prinsipnya sangat jelas bahwa avant-garde selalu melawan di bidang seni dengan cara berperang menuju yang lebih baik.
Film eksperimental tidak memiliki plot namun tetap memiliki struktur. Strukturnya sangat dipengaruhi oleh insting subyektif sineas seperti gagasan, ide, emosi, serta pengalaman batin mereka. Film eksperimental juga umumnya tidak bercerita tentang apapun bahkan kadang menentang kausalitas, seperti yang dilakukan para sineas surealis dan dadais. Film-film eksperimental umumnya berbentuk abstrak dan tidak mudah dipahami. Hal ini disebabkan karena menggunakan simbol-simbol personal yang mereka ciptakan sendiri. Secara singkat film eksperimental dianggap sebagai ekspresi sangat pribadi dan personal dalam menggunakan medium film bersifat non-komersial, dan dalam mencari kekhususan film selalu berdialog dengan medium lainnya.
Film dibagi menjadi tiga jenis, yaitu dokumenter, fiksi, dan eksperimental. Film-film dengan aliran seperti surealis, impresionis, ekspresionis, dan lain-lain digolongkan ke dalam jenis film eksperimental. Karena seperti yang sudah dijelaskan di awal itu adalah satu bentuk percobaan, namun bukan coba-coba, melainkan seniman berusaha memasukkan hal baru ke dalam film demi membuat suatu karya film yang lebih menarik. Seperti yang dikatakan oleh salah satu sineas Yogyakarta, Senoaji Julius, “film eksperimental bisa dibilang adalah suatu bentuk usaha oleh seniman dengan mencoba memasukkan hal baru yang belum pernah dicobanya pada karya-karya sebelumnya demi menghasilkan suatu karya yang inovatif”.
Dalam pengertian sebelumnya bahwa film eksperimental lekat dengan istilah absurd atau bisa dibilang sureal. Karena film sureal termasuk ke dalam salah satu film eksperimental, tidak lantas para seniman yang membuat film itu, membuatnya secara begitu saja dan kita menganggapnya sebagai suatu ke-absurd-an. Justru para seniman membuatnya berdasarkan keresahan-keresahan yang dialaminya pada realita kehidupan sehari-hari yang dianggapnya menjadi absurd karena hal-hal tertentu, seperti yang dikatakan oleh M. Dwi Marianto dalam bukunya Surealisme Yogyakarta, “Di Indonesia yang didefinisikan sebagai helm benar-benar sureal. Hal ini dikarenakan tujuan undang-undang tersebut bukanlah mengurangi tingkat kematian dan kecelakaan, tetapi mengumpulkan denda dari para pelanggar. Hampir tidak seorangpun yang bisa membeli helm yang beneran, penguasa mengerti hal ini, sehingga terjadilah kesepakatan yang surreal. Pengendara sepeda motor diperintahkan untuk mematuhi undang-undang yang menuruh mereka untuk memakai pelindung kepala yang sama sekali tidak efektif, di antaranya adalah helm proyek, pot tanaman yang terbuat dari plastik, buah melon separuh, kantung plastik, dan kotak kardus. Tampaknya ini cukup membuat polisi puas”.
Satu keasikan tersendiri yang dimiliki oleh jenis film ini, terlebih dapat membuka pemikiran para sineas ataupun mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di bidang perfilman yang hanya berkutat pada sisi teknis atau akademis, bahwa terdapat satu genre di dalam film yang membebaskan film maker tersebut berkonsep dengan cara tutur penceritaannya sendiri di sebuah film, sekalipun hal tersebut tidak ada dalam realitas kehidupan. Film maker bisa bebas berekspresi dengan didasari oleh pemikiran dan konsep yang kuat. Dalam pembuatannya sebenarnya tidak ada teknik pasti karena film eksperimental mempunyai suatu ciri khas, yaitu tergantung bagaimana si pembuat mengekspresikan pikirannya ke dalam sebuah film. Banyak cara untuk mengungkapkan gagasannya, dapat melalui artistiknya, adegannya, pengambilan gambarnya atau bahkan pengambilan suaranya sekalipun. Namun yang patut digaris bawahi adalah, para pembuatnya biasanya memasukan simbol-simbol yang dibuatnya untuk menggambarkan pikiran mereka. Berikut adalah beberapa contoh film eksperimental:

- Genre Sub Genre












Sutradara                : Yosep Anggi Noen
Produser                 : Arya Sweta
Penulis                    : Yosep Anggi Noen
Durasi                     : 12 menit
Tahun Produksi      : 2014
Negara                    : Indonesia

Film ini merupakan projek dari Museum Nusa Tenggara Timur yang berisi gabungan film dan foto yang digabungkan menjadi satu. Film ini bersumber dari arsip-arsip yang dimiliki oleh museum, yang diolah dan menjadi sebuah ramalan terhadap Nusa Tenggara Timur di masa mendatang.
Terdapat suatu konsep yang menarik di dalam menggambarkan apa yang menjadi ramalan sang sutradara. Terdapat satu rel kereta di tengah lahan bermain anak-anak dan kemudian rel itu dilewati oleh kereta api. Seperti yang kita ketahui bahwa di Nusa Tenggara Timur tidak ada kereta api. Namun dalam menceritakan ramalannya, sang sutradara menggabungkan dalam satu frame gambar hal yang sebenarnya tidak mungkin berada di sana dengan hal yang memang benar-benar terjadi di sana, sebagai bentuk ramalannya tentang pembangunan yang akan terjadi di Nusa Tenggara Timur.
  
- Doodle Bug














Sutradara               : Christopher Nolan
Produser                 : Emma Thomas & Steve Street
Penulis                   : Christopher Nolan
Durasi                    : 3 menit
Tahun Produksi      : 1997
Negara                   : Inggris

Film ini merupakan sebuah karya eksperimental dari sutradara Christopher Nolan yang berdurasi sangat pendek yaitu tiga menit. Terlihat seorang pria pada satu ruangan yang membawa sepatu dan memukul-mukul sesuatu yang bergerak dan bersembunyi di bawahnya, ketika berhasil menangkapnya ia lalu melihat dan ternyata itu adalah dirinya yang lebih kecil. Dan ketika ia memukulnya menggunakan sepatu ternyata di belakangnya ada dirinya lagi yang lebih besar yang siap memukulnya.
Konsep yang dihadirkan oleh Nolan sungguh menarik, ia menghadirkan suatu bentuk manusia dan adegan yang berulang-ulang dengan perbedaan ukuran objeknya. Bisa diartikan bahwa kita bukanlah apa-apa masih ada yang lebih besar dari kita sehingga kita tidak boleh memperlakukan seseorang dengan seenaknya atau menganggap rendah seseorang. Atau bisa diartikan bahwa apa yang kita perbuat maka itu juga yang akan kita dapatkan.

- Rocket Rain













Sutradara               : Anggun Priambodo
Produser                 : Meiske “Dede” Taurisia
Penulis                   : Tumpal Christian Tampubolon
Durasi                    : 99 menit
Tahun Produksi      : 2014
Negara                   : Indonesia

Film ini bisa dibilang sebuah film surealis, karya eksperimental dari Anggun Priambodo yang jika dilihat dari perjalanan karirnya ia sering membuat karya video art. Film ini sangat personal, bahkan dua tokoh inti yang ada di dalam film ini dimainkan oleh dirinya sendiri bersama dengan Tumpal (scriptwriter) untuk memperkuat sebuah adegan yang natural dan penyampaianya kepada penonton, sekalipun ini bukan sebuah film realis. Di dalam filmnya ini, Anggun menghadirkan banyak sekali penyimbolan-penyimbolan yang dibuatnya melalui dialog-dialog antar tokoh maupun elemen-elemen visual yang ada di film ini. Film ini benar-benar menceritakan tentang apa yang dibicarakan laki-laki jika sedang mengobrol, banyak hal juga yang dimasukkan sebagai satire seperti kepercayaan tentang mitos dan kepercayaan kita tentang tayangan televisi seperti contohnya mitos lidah buaya dan acara yang menghadirkan 10 perceraian teraneh di dunia. Percakapan dan pikiran laki-laki pasti salah satunya tentang seks, cara pikiran seperti itu kemudian divisualkan oleh Anggun dalam film ini pada adegan ketika Tumpal melihat supirnya sedang makan berdua di meja makan bersama istrinya, seketika gambar berubah menjadi hubungan intim antar si supir dan istrinya di atas meja makan. Dengan begitu ekspresifnya, Anggun memvisualkan secara blak-blakan apa yang dipikirkan oleh seorang laki-laki di dalam satu frame gambar yang sama antara realitas dan khayalan. Banyak penyimbolan lain seperti bunga-bunga yang disebut sebagai vagina oleh mereka, lalu tikus mati yang ukurannya lebih besar dari mereka, sampai pada akting Anggun yang menjadi seekor kura-kura kemudian tiba-tiba bertelur di sebuah pinggiran pantai. Film ini termasuk baik dalam mengungkapkan sisi personal, kejujuran, serta ke-ekspresif-an sang sutradara dalam mengemas film ini dengan menggunakan penyimbolan-penyimbolannya.
Beberapa karya di atas merupakan contoh karya film eksperimental. Jika di dunia seni rupa ada fine art (seni murni), maka di film, ada eksperimental, jadi bisa dibilang eksperimental adalah bentuk fine art-nya film. Namun di dalam televisi, sekalipun itu adalah sebuah program film, tidak ada eksperimental, tidak ada fine art. Bukan karena tidak ada hal yang unik, bagus, atau indah, melainkan televisi adalah sebuah media massa dan memiliki sisi komersil yang tinggi. Sebagai media massa televisi secara otomatis akan ditonton oleh banyak orang karena sifatnya tersebut, dari berbagai macam orang, berbagai macam lapisan, dan yang terpenting adalah berbagai macam ideologi. Karena dalam sebuah karya eksperimental terkadang mengandung dan membicarakannya secara 'berlebih' SARA di dalamnya, dan peredaran film jenis ini biasanya melalui sebuah pameran atau pun festival-festival film. Di mana biasanya penotonnya sudah mengerti tentang apa ini, atau keterbukaan pikiran tentang sebuah karya seni, dan jika terdapat hal yang menimbulkan perbedaan pendapat, itu bisa dilakukan secara diskusi langsung. Sedangkan pada televisi, mereka tidak mungkin menampilkan karya yang membicarakan SARA dengan tingkat yang 'lebih', dan jika itu ditampilkan, kebanyakan masyarakat Indonesia tidak memiliki keterbukaan dalam memaknai sebuah karya seni. Apalagi kita tidak bisa mengontrol secara langsung siapa dan berapa umur yang menonton program tersebut, walaupun terdapat sebuah simbol yang menandakan bahwa itu adalah acara bukan untuk anak-anak. Bukan salah dari sebuah karya seni jika membicarakan unsur SARA dengan didasari konsep yang kuat, yang menjadi masalah adalah masyarakat Indonesia belum bisa membuka pikiran mereka dan lebih memenangkan otot dibandingkan sebuah diskusi. Sebuah karya tidak bisa menjadi karya jika di dalam televisi terlalu terikat oleh banyak peraturan yang mengekang kebebasan untuk berekspresi. Seperti yang dikatakan oleh Krisna Murti, “tidak ada fine art di dalam televisi, bukanlah seni media rekam melainkan seni media baru”. Selain itu pada dunia televisi lebih mementingkan komersil dibandingkan sebuah idealis dalam berkarya atau membuat satu program acara, karena itu adalah sebuah tuntutan industry, tuntutan perputaran uang. Di mana mereka dituntut untuk membuat acara yang akan disenangi oleh para penontonnya, dengan seperti itu mereka akan mendapatkan banyak uang yang datang dari sponsor dan iklan. Bukan malahan memberikan sesuatu yang penonton butuhkan dalam setiap program acaranya. Kebebasan berekspresi dan membuat sesuatu yang membuka pikiran masyarakat menjadi tidak bisa dilakukan karena kekangan dari komersil.
Jika pergerakan kamera yang swing pada sebuah acara panggung di televisi, atau penempatan 36 kamera di lapangan sepak bola pada pergelaran sepak bola piala dunia dianggap sebagai fine art-nya televisi, itu jelas-jelas salah. Dilihat ulang dalam pengertian dasar fine art dalam bahasa Indonesia adalah seni murni, seni yang memberikan kebebasan untuk berekspresi, mengesampingkan sisi fungsionalis. Dan yang dilakukan oleh kamerawan pada acara televisi adalah dalam rangka sisi fungsionalis. Mereka memberikan kamera swing untuk memberikan gambaran megah panggung dan mendukung performance yang sedang dilakukan di panggung itu. Sedangkan pada penempatan 36 kamera di lapangan pada sepak bola piala dunia tidak lain adalah untuk memberikan banyak sisi penglihatan pada pergerakan bola kepada para penonton layar kaca. Dalam arti lain adalah untuk memanjakan mata para penonton layar kaca gerak detail dari keseluruhan yang ada di lapangan tersebut karena mereka tidak bisa melihat langsung di lapangan. Mereka tidak bisa berekspresi dalam mengoperasikan kamera, mereka tidak bisa membuat framing gambar dengan keinginan mereka, semua yang tercipta hanya framing dasar dalam sebuah ilmu pengambilan gambar, tak bisa seenaknya mereka membuat gambar yang tiba-tiba berputar atau gambar yang miring terus menerus dalam acara televisi, karena yang ada mereka akan dimarahi oleh atasan, mereka selalu mengambil gambar dengan perintah-perintah dari atasan, yang intinya mereka melakukannya di bawah perintah dan untuk sisi fungsionalis, dua hal yang bukan termasuk ke dalam fine art, jadi tidak ada fine art di dalam televisi. Bahkan tidak hanya bidang industri pertelevisian saja, pada instuisi yang mengajarkan tentang televisi sekalipun yang mempunyai instuisi seni, tidak bisa membawa fine art ke dalamnya. Itu adalah sebuah kesalahan memasukan ilmu televisi ke dalam ranah instuisi seni, seharusnya mereka digolongkan ke dalam lembaga yang mempelajari broadcasting karena memang itulah televisi. Yang pada akhirnya ilmu-ilmu yang diajarkan tidak jauh berbeda dengan apa yang diajarkan oleh lembaga broadcasting, dan menjadi tidak berguna label seni tadi. Tidak ada eksperimental di dalam televisi, tidak ada fine art di dalam televisi. Yang lebih menyedihkannya adalah di beberapa perguruan tinggi seni tidak ada keterbukaan pikiran untuk mempelajari sesuatu yang baru dalam ranah ilmu pengetahuan di bidang audio visual di sebuah instuisi seni. Mereka tidak memberikan sebuah ilmu baru kepada mahasiswanya untuk membuka wawasan. Mereka tidak terbuka dalam mengapresisasi berbagai karya audio visual, contohnya adalah karya audio visual yang memiliki konten sensitif. Padahal itu bukanlah suatu masalah karena sejatinya kampus merupakan tempat untuk belajar dan diskusi, semua hal menjadi netral dan tidak ada yang sensitif, karena di kampus merupakan ranah ilmiah. Tempat yang seharusnya memberikan kebebasan untuk setiap ilmunya, justru bersifat memilih dan tidak terbuka dalam menerima ilmu baru, sungguh menjadi ironi tersendiri.
Film eksperimental merupakan sebuah bentuk ekspresi, bentuk protes, atau bentuk usaha untuk menjadi sebuah film yang menghadirkan kecerdasan, menghadirkan pembaruan selain dari fungsi film sebagai hiburan, begitulah paradigma minimal yang harusnya dimiliki oleh kita.


Daftar Pustaka 

-       M. Dwi Marianto, Surealisme Yogyakarta, Rumah Penerbit Merapi: 2001, Yogyakarta